sponsor

sponsor

Slider

News Maker

Kemitraan

Seputar Informasi

Program Kerja

Pengurus

Download

Dokumentasi

Sejarah Karang Taruna


Karang Taruna lahir pada tanggal 26 September 1960 di Kampung Melayu Jakarta, melalui proses Experimental Project Karang Taruna, kerjasama masyarakat Kampung Melayu/ Yayasan Perawatan Anak Yatim (YPAY) dengan Jawatan Pekerjaan Sosial/Departemen Sosial. Pembentukan Karang Taruna dilatar belakangi oleh banyaknya anak-anak yang menyandang masalah sosial antara lain seperti anak yatim, putus sekolah, mencari nafkah membantu orang tua dsb. Masalah tersebut tidak terlepas dari kemiskinan yang dialami sebagian masyarakat kala itu.
MASA KELAHIRANNYA S/D DIMULAINYA PELITA (1960 – 1969)
Tahun 1960–1969 adalah saat awal dimana Bangsa Indonesia mulai melaksanakan pembangunan disegala bidang. Instansi-Instansi Sosial di DKI Jakarta (Jawatan Pekerjaan Sosial/Departemen Sosial) berupaya menumbuhkan Karang Taruna–Karang Taruna baru di kelurahan melalui kegiatan penyuluhan sosial. Pertumbuhan Karang Taruna saat itu terbilang sangat lambat, tahun 1969 baru terbentuk 12 Karang Taruna, hal ini disebabkan peristiwa G 30 S/PKI sehingga pemerintah memprioritaskan berkonsentrasi untuk mewujudkan stabilitas nasional.
DIMULAINYA PELITA HINGGA MASUK GBHN (1969 – 1983)
Salah satu pihak yang berjasa mengembangkan Karang Taruna adalah Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin (1966-1977). Pada saat menjabat Gubernur, Ali Sadikin mengeluarkan kebijakan untuk memberikan subsidi bagi tiap Karang Taruna dan membantu pembangunan Sasana Krida Karang Taruna (SKKT). Selain itu Ali Sadikin juga menginstruksikan Walikota, Camat, Lurah dan Dinas Sosial untuk memfungsikan Karang Taruna.
Tahun 1970 Karang Taruna DKI membentuk Mimbar Pengembangan Karang Taruna (MPKT) Kecamatan sebagai sarana komunikasi antar Karang Taruna Kelurahan. Sejak itu perkembangan Karang Taruna mulai terlihat marak, pada Tahun 1975 dilangsungkanlah Musyawarah Kerja Karang Taruna, dan pada moment tersebut Lagu Mars Karang Taruna ciptaan Gunadi Said untuk pertama kalinya dikumandangkan.
Tahun 1980 dilangsungkan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Karang Taruna di Malang, Jawa Timur. Dan sebagai tindak lanjutnya, pada tahun 1981 Menteri Sosial mengeluarkan Keputusan tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Karang Taruna dengan Surat Keputusan Nomor. 13/HUK/KEP/I/1981 sehingga Karang Taruna mempunyai landasan hukum yang kuat.
Tahun 1982 Lambang Karang Taruna ditetapkan dengan Keputusan Menteri Sosial RI nomor.65/HUK/KEP/XII/1982, sebagai tindak lanjut hasil Mukernas di Garut tahun 1981. Dalam lambang tercantum tulisan Aditya Karya Mahatva Yodha (artinya: Pejuang yang berkepribadian, berpengetahuan dan terampil)
Pada tahun 1983 Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengeluarkan TAP MPR Nomor II/MPR/1983 tentang Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang didalamnya menempatkan Karang Taruna sebagai wadah pengembangan generasi muda.
MASUK GBHN SAMPAI TERJADINYA KRISIS
  • Tahun 1984 terbentuknya Direktorat Bina Karang Taruna;
  • Tahun 1984-1987 sejumlah pengurus/aktivis Karang Taruna mengikuti Program Nakasone menyongsong abad 21 ke Jepang dalam rangka menambah dan memperluas wawasan;
  • Tahun 1985 Menteri Sosial menyatakan sebagai Tahun Penumbuhan Karang Taruna, sedangkan tahun 1987 sebagai Tahun KualitasKarang Taruna;
  • Karang Taruna Teladan Tahun 1988 berhasil merumuskan: Pola Gerakan Keluarga Berencana Oleh Karang Taruna;
  • Tahun 1988 Pedoman Dasar Karang Taruna ditetapkan dengan Keputusan Menteri Sosial RI no. 11/HUK/1988;
  • Kegiatan Studi Karya Bhakti, Pekan Bhakti dan Porseni Karang Taruna merupakan kegiatan dalam rangka mempererat hubungan antar Karang Taruna dari sejumlah daerah;
  • Sasana Krida Karang Taruna (SKKT) sebagai sarana tempat Karang Taruna berlatih dibidang-bidang pertanian dan peternakan.
  • Bulan Bhakti Karang Taruna (BBKT) biasanya diselenggarakan dalam rangka ulang tahun Karang Taruna. Merupakan forum kegiatan bersama antar Karang Taruna dari sejumlah daerah bersama masyarakat setempat, kegiatannya berupa karya bhakti/pengabdian masyarakat;
  • Tahun 1996 bekerjasama dengan Depnaker diberangkatkan 159 tenaga dari Karang Taruna untuk magang kerja ke Jepang antara 1 s/d 3 tahun, dalam upaya meningkatkan wawasan, pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai bidang usaha;
  • Pelibatan Karang Taruna dalam kesehatan reproduksi remaja diadakan agar Karang Taruna dapat berperan sebagai wahana Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) bagi remaja warga karang Taruna;
KARANG TARUNA DALAM SITUASI KRISIS (1997 – 2004)
Krisis moneter yang terjadi tahun 1997 berkembang menjadi krisis ekonomi, yang dengan cepat menjadi krisis multidimensi. Imbas dari krisis tersebut tak urung juga berdampak pada lambannya perkembangan Karang Taruna. Puncaknya pada saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid membubarkan Departemen Sosial, Karang Taruna pada umumnya mengalami stagnasi, bahkan mati suri. Konsolidasi organisasi terganggu ,aktivitas terhambat dan menurun bahkan cenderung terhenti. Hal tersebut menyebabkan Klasifikasi Karang Taruna menurun walaupun masih ada Karang Taruna yang tetap eksis.
Tahun 2001 Temu Karya Nasional Karang Taruna dilaksanakan di Medan., Sumatera Utara. Hasilnya antara lain menambah nama Karang Taruna menjadi Karang Taruna Indonesia, memilih Ketua Umum Pengurus Nasional KTI, serta menyusun Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga KTI. Hasil TKN tersebut memperoleh tanggapan yang berbeda-beda dari daerah.
PERKEMBANGAN KARANG TARUNA TAHUN 2005 HINGGA SEKARANG
Banten merupakan salah satu Provinsi yang ikut menorehkan sejarah ke-Karang Taruna-an. Pada tanggal 9-12 April 2005 digelar Temu Karya Nasional V Karang Taruna Indonesia (TKN V KTI) di Propinsi Banten. Beberapa hal yang dihasilkan pada TKN V tersebut antara lain:
  • Pemilihan Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT) periode 2005 – 2010;
  • Perubahan nama KTI menjadi Karang Taruna;
  • Merekomendasikan Pedoman Dasar Karang Taruna yang baru yang akan ditetapkan oleh MENSOS RI.
Pada tanggal 29 Juni – 1 Juli 2005 diselenggaran Rapat Kerja Nasional Karang Taruna (Rakernas Karang Taruna) di Jakarta dalam rangka menyusun program kerja. Pada tahun yang sama, Menteri Sosial mengeluarkan Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 83/HUK/2005 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna (pengganti Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 11/HUK/1988), sebagai tindak lanjut rekomendasi Temu Karya Nasional V di Banten. dan pada tanggal 23 – 27 September 2005 diselenggarakan BBKT dan SKBKT di Propinsi DIY dengan peserta lebih kurang 3.000 orang terdiri dari anggota dan pengurus Karang Taruna dari seluruh wilayah Indonesia.
Pengakuan dan Perhatian para penentu kebijakan di negeri ini terhadap keberadaan Karang Taruna dibuktikan dengan masuknya nama Karang Taruna dalam beberapa regulasi atau perundang-undangan. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Permendagri No. 5 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakatan, PP No. 72 & 73 tentang Desa dan Kelurahan serta UU No. 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial adalah beberapa produk hukum yang didalamnya menempatkan Karang Taruna dengan segala peran dan fungsinya.

Pemuda Zaman Dahulu VS Zaman Sekarang

Pemuda, sekarang lebih diartikan sebagai orang yang baru tumbuh dari masa anak-anak atau remaja. Mereka memiliki pengetahuan yang lebih luas dan dapat berfikir lebih rasional. Tetapi memiliki rasa emosional yang tinggi. Pemuda memiliki artian penting dalam masyarakat dan merupakan penerus untuk generasi yang selanjutnya. Peran penting dari seorang pemuda adalah kemampuan mereka dalam melakukan suatu perubahan. Walau perubahan itu kadang berujung yang tidak mereka harapkan atau kekacauan.

Banyak sekali perbedaan atau persamaan yang dapat kita lihat dari pemuda zaman dulu dengan pemuda zaman sekarang. Dan banyak juga orang beranggapan bahwa pemuda zaman sekarang kurang antusias, tanggap, ataupun kurang tata krama. Mengapa demikian?

Jika kita lihat dari sisi pemuda zaman dahulu, mereka memiliki semangat yang tinggi seperti hal nya pada masa penjajahan untuk merebut kemerdekaan. Pada masa itu mereka membentuk berbagai organisasi. Organisasi pertama yang pertama kali dibentuk adalah BUDI UTOMO dan menjadi awal dari pergerakan Indonesia untuk merdeka. Kekeluargaan mereka pun sangat kuat dan sopan santun mereka pun sangat dijaga.

Berbeda dengan pemuda zaman sekarang yang kadang membuat kekacauan dan keanarkisan yang tidak ada untungnya dan menimbulkan banyak kerugian. Entah karena masalah sepele yang di besar-besarkan atau semacamnya. Banyaknya pengaruh yang datang dari luar yang tidak dapat kita saring bisa menjerumuskan ke dalam hal-hal yang negative. Seandainya kita bisa mengambil sesuatunya yang bersifat positif, tentu semuanya akan dapat berjalan dengan lancar dan selaras seiring dengan perubahan zaman.

Sebagai generasi penerus seharusnya kita menjaga atas apa yang telah diberikan oleh generasi-generasi sebelumnya. Melestarikan apa yang ada dan bukan untuk merusaknya. Tetapi tidak semua pemuda zaman sekarang hanya bersifat merusak. Banyak pemuda-pemuda sekarang yang bisa dikatakan kreatif dan selalu berfikir optimis untuk sebuah kemajuan dan mengharumkan nama bangsa.

Dulu: Kalo kenalan "no telp rumah lo donk" | Sekarang: Kalo kenalan "pin BB lo donk"
Dulu: Kenalan secara langsung ketemuan | Sekarang: Kenalan bisa lewat jejaring sosial.
Dulu: Kemesraan ini | Sekarang: Cenat-cenut.
Dulu: Ngapel ke rumah pacar | Sekarang: Skype di rumah masing2.
Dulu: Pacaran di rumah, Taman, Bioskop | Sekarang: Pacaran di Timeline.
Dulu: Pegangan tangan aja udah malu-malu | Sekarang: Pelukan dipinggir jalan udah ga malu -,-
Dulu: Telepon or sms ngucapin 'happy birthday' | Sekarang: Cukup BBM or wall FB aja.

Dulu: Curhat di buku diary | Sekarang: Curhat di twitter.
Dulu: Cinta ditolak dukun bertindak | Sekarang: Folbek ditolak, unfol bertindak.
Dulu: Nikah Dulu baru bikin anak | Sekarang: Bikin anak Dulu baru nikah.
Dulu: Perawan di sarang penyamun | Sekarang: Perawan di saranghaeyo.

Dulu: Bangun pagi terus mandi | Sekarang: Bangun pagi terus ngecek HP.
Dulu: Bangun tidur ku terus mandi | Sekarang: Bangun tidur ku terus ngetweet.
Dulu: Bangun tidur gak ada air = sedih | Sekarang: Bangun tidur gak ada sms dr doi = sedih
Dulu: Pagi-pagi nonton berita | Sekarang: Pagi-pagi stalk TL mantan.
Dulu: Ngopi + baca koran | Sekarang: Ngopi + baca TL.
Dulu: Minggu pagi nonton kartun | Sekarang: Minggu pagi nonton timeline.
Dulu: Sebelum tidur gosok gigi | Sekarang: Sebelum tidur update status.

Dulu: Biro jodoh, iklan, cari jodoh lewat koran | Sekarang: Promote sendiri di sosmed.
Dulu: Mulutmu harimaumu | Sekarang: Jempolmu harimaumu.
Dulu: Maju tak gentar membela yang benar | Sekarang: Maju tak gentar membela yang bayar.
Dulu: Orang nunduk itu malu | Sekarang: Orang nunduk itu mandang gadget.
Dulu: Air beriak tanda tak dalam | Sekarang: Aku teriak kamu tusuk yg dalam *mikir keras*
Dulu: Habis manis sepah dibuang | Sekarang: Habis nangis trus disuruh pulang :s
Dulu: Mama minta pulsa | Sekarang: Mama minta follback.
Dulu: 1000 followers udah seneng | Sekarang: followers udah 20.000 aja gengsi -_-

*Anak-Anak*

Dulu: Tuker-tukeran binder | Sekarang: Tuker-tukeran pin BB.
Dulu: Tuker-tukeran kertas diary & tazos | Sekarang: Tuker-tukeran pin BB.
Dulu: Main Congklak, Petak Umpet, Bekel, dll | Sekarang: Main BB, Game Online, FB, Twitter.
Dulu: Anak kecil maennya kejar-kejaran | Sekarang: Anak kecil maennya pacar-pacaran.
Dulu: Anak2 nonton kartun di TV | Sekarang: Anak2 lebih milih nonton youtube di gadgetnya.
Dulu: Anak-anak gampang malu | Sekarang: Anak-anak gampang mellow.
Dulu: Takut gelap | Sekarang: Hobby mojok di tempat gelap.
Dulu: Cita-cita? Jadi Dokter | Sekarang: Cita-cita? Jadi Seleb tweet.
Dulu: Galau disebabkan karna kalah maen gundu | Sekarang: Ngetwit galau karna pacaran
Dulu: Punya air es aja udah dibilang kaya | Sekarang: Anak kecil pamer hp biar dikira orang kaya.
Dulu: Punya nokia 3310/1100 aja udah keren | Sekarang: Hapenya keren², BB, android, ipad, dsb.
Dulu: Belajar rumus segitiga sama kaki | Sekarang: Belajar rumus cinta segitiga sama hati :|

Dulu: "pah, beliin mainan boneka/mobil2an" | Sekarang: "pah, beliin bb, beliin iphone, pasangin behel"

*Lagu anak2*
Dulu: Abang tukang baso mari2 sini, aku mau beli | Sekarang: Kau bidadari jatuh dari surga dihadapanku :|

*Remaja*

Dulu: Kerja keras, pantang menyerah | Sekarang: Putus asa, galau, trus ngetweet or ngupdate.
Dulu: foto2 disimpen, dijadiin walpaper | Sekarang: foto2 di upload fb, twitter, DP bbm.

Dulu: Ngumpul sama temen pasti ngomongin mainan | Sekarang: Ngumpul ngomongin move on sama ngumpul kebo.

Dulu: "Say pulsa abis nih, nanti gak bisa sms" | Sekarang: "Say pulsa abis nih, nanti gak bisa mention kamu."

Dulu: Cowok sejati itu dia yg suka nolongin ceweknya | Sekarang: Cowok sejati itu dia yg suka gombalin ceweknya.

*Makan*

Dulu: "Makan ga makan asal ngumpul" | Sekarang: "Makan ga makan asal WiFi-an"

Dulu: Baca doa sebelum makan | Sekarang: Foto² & Update Status sebelum makan *makanannya di lalerin*

Dulu: Tangan kanan pegang sendok, tangan kiri pegang garpu | Sekarang: Tangan kanan pegang sendok, tangan kiri pegang HP

*Minta Jawaban Ujian ke Temen*
Dulu: Kode-kodean lewat jari | Sekarang: Lewat BBM.

*Anak Cewek*
Dulu: Main BEKEL | Sekarang: Make BEHEL

*Mau Tidur*
Dulu: Cuci muka, cuci kaki, minum susu, baca do'a "Tidur"
Sekarang: Cuci muka, cuci kaki, minum susu, baca do'a "Login Twitter"

*Diculik*
Dulu: Teriak minta tolong, telpon org | Sekarang: Bikin video Dulu, upload, twit.

*Jomblo*
Dulu: Hati senang walaupun tak punya uang | Sekarang: Hati senang kalo udah internetan.

*Adzan Buka Puasa*
Dulu: Buru-buru berbuka | Sekarang: buru-buru update status

*Ngaca*
Dulu: Buruk wajah, cermin dibelah.
Sekarang: Buruk wajah, photoshop diunggah
2020: Buruk wajah, kelamin dirubah.

*Game*
Dulu: Taun 1991 maen dingdong Street Fighter II pake koin seratusan.
Sekarang: Taun 2013 maen Arcade Street Fighter IV, satu koin limaribu

*Pernikahan*
Dulu: Ke resepsi nikahan bawa kado gede dgn desain aneh2 isinya album foto, jam dinding, perabotan.
Sekarang: Cukup amplop kecil isi duit.

*Di WC*

Dulu: Boker sambil baca koran
Sekarang: Boker sambil mainin iPad *Ampe AngryBird tamat* *Tokaynya kering*

Dulu: Mau boker diem2 aja.
Sekarang: Mau boker aja ngetwit Dulu, "Duh pengen boker"

*Sumpah Pemuda*

1928: SUMPAH PEMUDA | 2013: CUMPAH MIAPAH
1928: SOEMPAH PEMOEDA | 2013: 5uMp4h P3MuD4

1928: Soempah Pemoeda | 1978: Sumpah Pemuda | 2005: SuMp4h P3mUd4 2009: SuMpAH p3muDA | 2012: Cumpah miapah?

Pemuda Dulu: Pegangnya bambu runcing
Pemuda Sekarang: Maen banyak-banyakan pegang gadget

Pemuda Dulu: Nyanyi lagu kebangsaan.
Pemuda Sekarang: Pemuda Dulu bukanlah yang Sekarang.

pemuda Dulu: adalah pemuda sosial
Pemuda Sekarang: adalah pemuda jejaring sosial

Sumpah Dulu: "Sumpah Pemuda".
Sumpah Sekarang: "Sumpah Aku Sayang Kamu".

Dulu: Soempah poemoeda *dengan lantang*
Sekarang: CuMp4h mI4pAh *dengan gaya alay*

Dulu: Para pemuda berkumpul utk latihan perang.
Sekarang: Para pemuda berkumpul utk latihan 'yeyeyelalalala'

Dulu: Para pemuda berjanji utk melindungi negaranya sehidup semati.
Sekarang: Para pemuda berjanji utk melindungi pacar'nya sehidup semati.

Dulu: Pemuda menenteng senjata atau bambu runcing.
Sekarang: Pemuda pada nenteng Galaxy Tab atau Ipad.

Dulu: Para pemuda galau untuk merebut kemerdekaan dari penjajah
Sekarang: Para pemuda galau untuk merebut cinta dari sang gebetan

share: http://www.ariepinoci.web.id

Peran Pemuda dalam mengisi kemerdekaan

Hari kemerdekaan merupakan momen bersejarah dan momen terpenting bagi suatu bangsa dan negara, termasuk juga bagi Indonesia. Pasalnya, kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjalanan panjang dan perjuangan yang keras dari para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah.

Wajar saja jika seluruh masyarakat Indonesia tidak pernah lupa akan hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus ini. Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kemerdekaan, mulai dari upacara pengibaran bendera merah putih, peringatan proklamasi, karnaval budaya, hingga perlombaan tradisional khas 17-an.

Namun perjuangan para pahlawan untuk merebut kemerdekaan seharusnya tidak hanya diperingati setahun sekali dengan perayaan-perayaan tertentu. Perjuangan tersebut harus dimaknai dan dilanjutkan oleh generasi muda dan sudah menjadi kewajiban kita sebagai generasi muda untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang sudah diraih dengan susah payah melalui perjuangan para pahlawan yang sudah mempertaruhkan jiwa dan raganya.

Lalu bagaimana cara generasi muda masa kini untuk mengisi kemerdekaan?

1. Pengabdian ke masyarakat

Terlibat dalam kegiatan sosial dan pelayanan masyarakat merupakan salah satu cara yang kini banyak dilakukan oleh para pemuda, termasuk juga Suryatul Arifidin. Selain terlibat aktif di salah satu organisasi kampus, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini juga ikut aktif dalam melakukan kegiatan sosial sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Bersama dengan teman-temannya, ia membantu masyarakat di salah satu daerah tertinggal di wilayah Kulon Progo, Yogyakarta, untuk mengenalkan makanan khas daerah tersebut yaitu Slondok kepada masyarakat Indonesia. Di sana mereka memberikan inovasi dan mengedukasi penduduk setempat untuk  membuat makanan khas di sana dapat dikenal di pasaran dan mampu bersaing dengan produk-produk makanan lainnya.

2. Mendukung perkembangan produk dalam negeri

Banyak dari anak muda Indonesia yang lebih merasa bangga saat menggunakan produk dari brand-brand ternama di dunia. Tanpa disadari, hal tersebut justru dapat mematikan pertumbuhan dari brand-brand lokal yang beberapa diantaranya juga memiliki kualitas produk yang tidak kalah dengan brand luar. Saat ini, begitu banyak brand asli Indonesia yang bermunculan dalam berbagai bidang.
3. Terlibat dalam memajukan sektor pendidikan

Aset terbesar dari suatu negara bukanlah sumber daya alamnya, melainkan sumber daya manusia dari negara tersebut. Oleh karena itu, untuk mendapatkan kemerdekaan yang sesungguhnya, diperlukan perbaikan kualitas sumber daya manusia Indonesia, terutama dalam hal pendidikan.

Maka dari itu, pembenahan fasilitas pendidikan harus menjadi prioritas utama yang harus dilakukan untuk perbaikan kualitas SDM di Indonesia. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka diperlukan kepedulian dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga generasi muda. Ya! Generasi muda pun bisa ikut berperan aktif dalam memperbaiki sektor pendidikan di Indonesia. Hal ini pula yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa Universitas Internasional Batam, Sunarto Wang, dengan bergabung menjadi fasilitator Edushare Indonesia di Kepulauan Riau.

Dalam organisasi non-profit ini, ia terlibat sebagai fasilitator bagian edukasi dan seni, yang bertugas mengajari anak-anak yang di Pulau Seraya yang belum mendapatkan fasilitas pendidikan yang maksimal. Ia percaya bahwa untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya, hal terpenting yang harus dilakukan adalah memerdekakan generasi perbaikan bangsa dari keterbatasan dalam pendidikan maupun kesehatan, dan generasi muda bisa ikut terlibat dalam hal tersebut.

“Apabila setiap pemuda bisa berkontribusi di daerahnya masing-masing bahkan di daerah yang belum terjamah, maka tercapailah maksud dan tujuan dari kemerdekaan”, ujar pemuda berusia 22 tahun ini.

4. Mengenalkan budaya Indonesia kepada dunia

Menurut Sunarto, pengenalan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia juga dapat dijadikan sebagai wujud untuk mengisi kemerdekaan. Pemuda yang pernah ikut serta dalam kegiatan pertukaran pemuda ke Kanada ini tidak lupa untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada teman-temannya di Kanada saat mengikuti kegiatan pertukaran pemuda.

“Di sana kami mengenalkan budaya dan kesenian tradisional Indonesia kepada mahasiswa di sana, salah satunya yaitu Tari Saman yang berasal dari daerah Aceh”, ujarnya.

Budaya memang menjadi bagian penting dan tidak bisa dilepaskan dari nama suatu bangsa. Bahkan budaya bisa dikatakan sebagai hal yang dapat menjadi representasi dari bangsa dan negara yang bersangkutan.

5. Saling menghormati dan berbagi

“Menerapkan prinsip setara bersaudara dan saling berbagi satu sama lain”, itulah kalimat yang diucapkan oleh salah satu aktivis Serikat Mahasiswa Indonesia, Deara Shinta Lestari, saat ditanya mengenai caranya untuk mengisi kemerdekaan. Ya, sikap saling menghormati memang sangat diperlukan oleh masyarakat Indonesia yang pada dasarnya terdiri dari berbagai suku, ras dan agama yang berbeda-beda. Jika perbedaan tersebut tidak disikapi dengan rasa saling menghormati, maka tidak akan terjadi kemerdekaan yang sepenuhnya.
 

Peran pemuda dalam Islam

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan dan memuliakan para pemuda, al-Qur’an menceritakan potret pemuda yang mempunyai pendirian yang benar dalam menegakkan Tauhid. Hal ini tercatat dalam kisah dalam beberapa surat sbb:

    Q.S Al Kahfi : 18 : Kisah ashaabul kahfi

Yaitu Kelompok pemuda yang beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan mayoritas kaumnya yang menyimpang dari agama Allah SWT, Allah SWT menyelamatkan para pemuda tersebut dan menidurkan mereka selama 309 tahun hingga berakhirnya rezim kafir menjadi rezim beriman.

    Q.S : Al Buruj  : Kisah pemuda ashaabul ukhdud

Menceritakan kisah pemuda yang tegar dalam keimanannya kepada Allah SWT sehingga menyebabkan banyak masyarakatnya yang beriman dan membuat murka penguasa sehingga ratusan orang dibinasakan dengan diceburkan ke dalam parit berisi api yang bergejolak.


Mayoritas dari assabiquunal awwaluun (orang-orang yang pertama kali beriman kepada Rasulullah SAW) adalah para pemuda (Abubakar ra masuk Islam pada usia 32 tahun, Umar ra 35 th, Ali ra 9 th, Utsman ra 30 th, dst).  Sifat-sifat para pemuda yang mendapatkan derajat tinggi sehingga kisahnya diabadikan dalam al-Qur’an dan dibaca oleh jutaan manusia dari masa ke masa, adalah sebagai berikut:

    Mereka selalu menyeru pada al-haq (QS 7/181)
    Mereka mencintai Allah SWT, maka Allah SWT mencintai mereka (QS 5/54)
    Mereka saling melindungi, menegakkan shalat (QS 9/71) tidak sebagaimana para pemuda yang menjadi musuh Allah SWT (QS 9/67)
    Mereka adalah para pemuda yang memenuhi janjinya kepada Allah SWT (QS 13/20)
    Mereka tidak ragu berkorban diri dan harta mereka untuk kepentingan Islam (QS 49/15)


Pemuda Harus Menjadi Generasi yang Bekerja dan Aktif Berdakwah



Islam memandang posisi pemuda di masyarakat bukan menjadi kelompok pengekor yang sekedar berfoya-foya, membuang-buang waktu dengan aktifitas-aktivitas yang bersifat hura-hura dan tidak ada manfaatnya. Melainkan Islam menaruh harapan yang besar kepada para pemuda untuk menjadi pelopor dan motor penggerak dakwah Islam. Pemuda adalah kelompok masyarakat yang memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya, diantaranya adalah bahwa mereka relatif masih bersih dari pencemaran (baik aqidah maupun pemikiran), mereka memiliki semangat yang kuat dan kemampuan mobilitas yang tinggi.



Para musuh Islam sangat menyadari akan hal tersebut, sehingga mereka berusaha sekuat tenaga untuk mematikan potensi yang besar tersebut dari awalnya dan menghancurkan para pemuda dengan berbagai kegiatan yang laghwun (bersifat santai dan melalaikan), dan bahkan destruktif.  Pemuda yang baik oleh karenanya adalah pemuda yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

    Mereka beramal/bekerja dengan didasari dengan keimanan/aqidah yang benar

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’” (QS Haa Miim[41]: 33)

    Mereka selalu bekerja membangun masyarakat

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS Al Kahfi [18]: 7)

Dan mereka memahami bahwa orang yang baik adalah orang yang paling bermanfaat untuk ummat dan masyarakatnya  “Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS At Taubah [9]: 105).

 

Pemuda Harus Menjadi Potret Generasi Islami



Para pemuda hendaknya menyadari bahwa mereka haruslah menjadi kelompok yang mampu mempresentasikan nilai-nilai Islam secara utuh bagi masyarakat, yaitu:

    Mereka menjadi generasi yang hidup qalbunya karena senantiasa dekat dengan al-Qur’an, dan tenang dengan dzikrullah (QS 13/28) [1], “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d [13]: 28)  bukan generasi yang berhati batu (QS 57/16) [2]  “… dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadiid [57]: 16) akibat jauh dari nilai-nilai Islam, ataupun generasi mayat (QS 6/122) [3] yang tidak bermanfaat tetapi menebar bau busuk kemana-mana.  “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am [6]: 122)

 Dalam menghadapi kesulitan dan tantangan, maka para pemuda harus sabar dan terus berjuang menegakkan Islam, hendaklah mereka berprinsip bahwa jika cintanya kepada Allah SWT benar, semua masalah akan terasa gampang.
 
  Dalam perjuangan, jika yang menjadi ukurannya adalah keridhoan manusia maka akan terasa berat, tetapi jika ukurannya keridhoan Allah SWT maka apalah artinya dunia ini (QS 16/96) [4].

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl [16]: 96)

Sebagian besar Pemuda Islam berada pada keadaan yang sangat memprihatinkan, mereka bagaikan buih, tidak memiliki bobot dan tidak memiliki nilai. Hal ini disebabkan oleh hal-hal sbb:

 INDIVIDUALISME.

Mayoritas ummat Islam saat ini bekerja sendiri-sendiri dan sibuk dengan masalahnya masing-masing tanpa berusaha untuk menggalang persatuan dan membuat suatu bargaining position demi kepentingan ummat. Para ulama dan muballigh sibuk bertabligh, para pengusaha muslim sibuk dengan usahanya dan para pejabatnya sibuk mempertahankan jabatannya, tidak ada koordinasi bekerja sesuai dengan bidangnya kemudian dimusyawarahkan untuk kepentingan bersama. Hal inilah yang menyebabkan jurang pemisah antara masing-masing kelompok semakin besar.
 Emosional,

Ikatan keislaman mayoritas ummat saat ini baru pada ikatan emosional saja, belum disertai dengan kefahaman yang mendalam akan ajaran agamanya. Sehingga disiplin untuk bekerja, semangat untuk berdakwah, gairah berinfak, dsb baru pada taraf emosional, bersifat reaktif dan sesaat saja (QS 22/11).

 Orientasi kultus.

Dalam pelaksanaan ibadah ritual, menjalankan pola hidup sampai dengan mensikapi berbagai peristiwa kontemporer, mayoritas masyarakat muslim tidak berpegang kepada dasar kaidah-kaidah Islam yang jelas, karena pengetahuan keislaman yang pas-pasan, sehingga lebih memandang kepada pendapat berbagai tokoh yang dikultuskan. Celakanya para tokoh tersebut kebanyakan dikultuskan oleh berbagai lembaga yang tidak memiliki kompetensi sama sekali dalam bidang agama, seperti media massa, sehingga bermunculanlah para ulama selebriti yang berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan.

    Sembrono. Dalam aspek aktifitas, maka mayoritas ummat melakukan kegiatan dakwah secara sembrono, tanpa perencanaan dan perhitungan yang matang sebagaimana yang mereka lakukan jika mereka mengelola suatu usaha. Akibat aktifitas yang asal jadi ini, maka dampak dari dakwah tersebut kurang atau tidak terasa bagi ummat. Kegiatan tabligh, ceramah, perayaan hari-hari besar agama yang dilakukan hanya sekedar menyampaikan, tanpa ada follow up dan reevaluasi terhadap hasilnya. Khutbah jum’at hanya sekedar melaksanakan rutinitas tanpa dilakukan pembuatan silabi yang berbobot sehingga jama’ah sebagian besar datang untuk tidur daripada mendengarkan isi khutbah. Kegiatan membaca al-Qur’an hanya terbatas kepada menikmati keindahan suara pembacanya, tanpa diiringi dengan keinginan untuk menikmati dan merenungkan isinya, sehingga disamakan dengan menikmati lagu-lagu dan nyanyian belaka.
    Parsial. Dalam melaksanakan Islam, mayoritas ummat tidak berusaha untuk mengamalkan keseluruhan kandungan al-Qur’an dan as-Sunnah, melainkan lebih memilih kepada bagian-bagian yang sesuai dengan keinginannya dan menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya (QS 2/85). Sehingga seorang sudah dipandang sebagai muslim sejati, hanya dengan indikator melakukan shalat atau puasa saja. Padahal shalat hanya bagian yang sangat kecil saja yang menjadi kewajiban seorang muslim, disamping aturan-aturan lain yang juga wajib dilaksanakan oleh seorang muslim dalam berekonomi, politik, pergaulan, pola pikir, cita-cita, bekerja, dsb. Yang kesemuanya tanpa kecuali akan diminta pertanggungjawaban kita di akhirat kelak (QS 2/208).
  
Tradisional.

Kaum muslimin belum mampu menggunakan media-media modern secara efektif untuk kepentingan dakwah, seperti ceramah dengan simulasi komputer, VCD film-film yang islami, iklan-iklan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, kebanyakan masih mengandalkan kepada cara tradisional seperti ceramah di mesjid, musholla dan di lapangan. Isi ceramah yang disampaikan kebanyakan masih bersifat fiqih oriented; masalah-masalah aqidah, ekonomi yang islami, sistem politik yang islami, apalagi masalah-masalah dunia Islam kontemporer sama sekali belum banyak disentuh.

 Tambal-sulam.

Dalam menyelesaikan berbagai persoalan ummat, pendekatan yang dilakukan bersifat tambal sulam dan sama sekali tidak menyentuh esensi permasalahan yang sebenarnya. Sebagai contoh, mewabahnya AIDS cara mengatasinya sama sekali bertentangan dengan Islam, yaitu dengan membagi-bagi kondom. Seolah-olah lupa atau sengaja melupakan bahwa pangkal sebab dari AIDS adalah melakukan hubungan seks tidak dengan pasangan yang sah. Dan cara menanggulanginya adalah dengan memperbaiki muatan pendidikan agama yang diajarkan dari sejak sekolah menengah sampai perguruan tinggi. Demikian pula masalah2 lainnya seperti tawuran pelajar, meningkatnya angka kriminalitas, penyalahgunaan Narkoba, menjamurnya KKN;

PENTINGNYA PERAN GENERASI MUDA


Gambar: https://pendoasion.files.wordpress.com/2013/10/backpacker.jpg


Didasari atau tidak, pemuda sejatinya memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam akselerasi pembangunan termasuk pula dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemuda merupakan aktor dalam pembangunan.
Baik buruknya suatu Negara dilihat dari kualitas pemudanya, karena generasi muda adalah penerus dan pewaris bangsa dan Negara. Generasi muda harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami pengetahuan dan teknologi untuk bersaing secara global. Pemuda juga perlu memperhatikan bahwa mereka mempunyai fungsi sebagai Agent of change, moral force and sosial kontrol sehingga fungsi tersebut dapat berguna bagi masyarakat.
Pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional. Peran aktif pemuda sebagai kekuatan moral diwujudkan dengan menumbuhkembangkan aspek etik dan moralitas dalam bertindak pada setiap dimensi kehidupan kepemudaan, memperkuat iman dan takwa serta ketahanan mental-spiritual, dan meningkatkan kesadaran hukum. Sebagai kontrol sosial diwujudkan dengan memperkuat wawasan kebangsaan, membangkitkan kesadaran atas tanggungjawab, hak, dan kewajiban sebagai warga negara, membangkitkan sikap kritis terhadap lingkungan dan penegakan hukum, meningkatkan partisipasi dalam perumusan kebijakan publik, menjamin transparansi dan akuntabilitas publik, dan memberikan kemudahan akses informasi.
Sebagai agen perubahan diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan politik dan demokratisasi, sumberdaya ekonomi, kepedulian terhadap masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga, seni, dan budaya, kepedulian terhadap lingkungan hidup, pendidikan kewirausahaan, serta kepemimpinan dan kepeloporan pemuda.
Peran penting pemuda telah tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai dari pergerakan Budi Utomo tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, proklamasi kemerdekaan tahun 1945, pergerakan pemuda, pelajar, dan mahasiswa tahun 1966, sampai dengan pergerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang meruntuhkan kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun sekaligus membawa bangsa Indonesia memasuki masa reformasi. Fakta historis ini menjadi salah satu bukti bahwa pemuda selama ini mampu berperan aktif sebagai pionir dalam proses perjuangan, pembaruan, dan pembangunan bangsa.
Dalam proses pembangunan bangsa, pemuda merupakan kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan sebagai perwujudan dari fungsi, peran, karakteristik, dan kedudukannya yang strategis dalam pembangunan nasional. Untuk itu, tanggung jawab dan peran strategis pemuda di segala dimensi pembangunan perlu ditingkatkan dalam kerangka hukum nasional sesuai dengan nilai yang terkandung di dalam Pancasila dan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, kebangsaan, kebhinekaan, demokratis, keadilan, partisipatif, kebersamaan, kesetaraan, dan kemandirian.
Dalam sejarah pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia, pemuda selalu mempunyai peran yang sangat strategis di setiap peristiwa penting yang terjadi. Ketika memperebutkan kemerdekaan dari penjajah belanda dan jepang kala itu, ketika menjatuhkan rezim Soekarno (orde lama), hingga kembali menjatuhkan rezim Soeharto (orde baru), pemuda menjadi tulang punggung bagi setiap pergerakan perubahan ketika masa tersebut tidak sesuai dengan keinginan rakyat. Pemuda akan selalu menjadi People make history (orang yang membuat sejarah) di setiap waktunya. Pemuda memang mempunyai posisi strategis dan istimewa. Secara kualitatif, pemuda lebih kreatif, inovatif, memiliki idealisme yang murni dan energi besar dalam perubahan sosial dan secara kuantitatif, sekitar 30-40 % pemuda dari total jumlah penduduk Indonesia dalam kisaran umur 15-35 tahun dan akan lebih besar lagi jika kisaran menjadi 15-45 tahun.
Saya melihat bahwa pemuda akan lebih bersifat kreatif untuk melakukan pergerakan ketika kondisi atau suasana di sekitarnya mengalami kerumitan, terdapat banyak masalah yang di hadapi yang tidak kunjung terselesaikan. Di satu sisi, ketika suasana di sekitarnya terlihat aman dan tentram tidak ada masalah serius yang dihadapi, pemuda akan cenderung diam/pasif, tidak banyak berbuat, lebih apatis dan mempertahankan kenyamanan yang dirasakan. Padahal baik dalam kondisi banyak permasalahan ataupun kondisi tanpa masalah serius, pemuda dituntut lebih banyak bergerak dalam membuat perubahan yang lebih baik, lebih produktif dan lebih kreatif dalam memikirkan ide-ide perubahan untuk bangsa yang lebih baik.
Saya melihat kondisi pemuda Indonesia saat ini, mengalami degradasi moral, terlena dengan kesenangan dan lupa akan tanggung jawab sebagai seorang pemuda. Tataran moral, sosial dan akademik, pemuda tidak lagi memberi contoh dan keteladanan baik kepada masyarakat sebagai kaum terpelajar, lebih banyak yang berorientasi pada hedonisme (berhura-hura), tidak banyak pemuda yang peka terhadap kondisi sosial masyarakat saat ini, dalam urusan akademik pun banyak mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka adalah insan akademis yang dapat memberikan pengaruh besar dalam perubahan menuju kemajuan bangsa.
Problematika Pemuda
Problematika pemuda yang terbentang di hadapan kita sekarang sangatlah kompleks, mulai dari masalah pengangguran, krisis eksistensi, krisis mental hingga masalah dekadensi moral. Budaya permisif dan pragmatisme yang kian merebak membuat sebagian pemuda terjebak dalam kehidupan serba instant, hedonis, dan terlepas dari idealisme sehingga cenderung menjadi manusia yang anti sosial.
Adapun masalah lain yang turut menjadi pemicu terancamnya posisi pemuda adalah lemahnya pengawasan orang tua, keluarga, serta orang terdekat termasuk pula lemahnya pemahaman pemuda terhadap agama, melanggar tatanan hukum yang berlaku, dan lain sebagainya mengakibatkan pemuda banyak terjerumus dalam pusaran pergaulan yang mengantarkan pemuda pada titik kehancuran. Fakta yang ada sekarang menjadi bukti hal tersebut, misalnya dari beberapa hasil penelitian mengemukakan bahwa seks bebas, penyalahgunaan narkoba, justru lebih banyak dilakukan oleh pemuda. Hal ini menjadi tugas bersama berbagai elemen guna menyelamatkan pemuda, sekaligus menyelamatkan bangsa dari krisis kepemudaan yang berprestasi.
Seperangkat aturan saja tidaklah cukup untuk melindungi pemuda dari berbagai kemungkinan terburuk, tanpa didukung oleh peran pemerintah, masyarakat, swasta, dan lain sebagainya dalam implementasi seperangkat regulasi. Untuk itu harus dicari solusi agar proses pengembangan potensi pemuda bukan hanya terbentuk dalam rencana semata, melainkan direalisai melalui mekanisme yang sudah diatur sedemikian rupa. Salah satunya adalah organisai yang memang merupakan salah satu wadah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki pemuda, sebab organisasi merupakan sarana paling efektif untuk menginisiasi dan melakukan perubahan tersebut.
Sebagai seorang pemuda menjadi kebanggan tersendiri bagi saya lahir di hari “Sumpah pemuda” 28 Oktober 1990 silam. Terlahir di hari “Sumpah pemuda” memberi saya motifasi luar biasa untuk memberi kontribusi besar dalam pembinaan pemuda dan ini saatnya bekerja untuk Indonesia menuju kemajuan bangsa yang lebih baik. Dengan melihat degradasi moral dikalangan pemuda Indonesia saat ini membuat saya berperan aktif dalam pembinaan moral dikalangan pemuda/pelajar Makassar. Melalui proses mentoring dengan pendekatan nilai-nilai rohani dalam penggabungan tiga aspek kecerdasan manusia (IQ, SQ, EQ). Semoga ini menjadi tahap awal dalam membentuk generasi mudah yang berguna bagi nusa dan bangsa.
MAJU PEMUDA INDONESIA UNTUK PERADABAN LEBIH BAIK!

Sumber Referensi
http://ariesulistya.wordpress.com/…/pentingnya-peran-pemud…/